Jumat, 22 Juni 2012

MAKALAH PROMOSI KESEHATAN UPAYA PROMOSI KESEHATAN PRANIKAH, IBU HAMIL DAN IBU BERSALIN



KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
            Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta karunia-NYA kepada kita semua karena dengan izin-Nya-lah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Topik Makalah kami adalah “Upaya Promosi Kesehatan Pada Pranikah, Ibu Hamil Dan Ibu Bersalin”. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dimana masih terdapat kekurangan-kekurangan yang tentunya masih diharapkan perbaikannya, oleh karena itu kami mohon kritik dan saran dari dosen pembimbing serta teman-teman semua guna perbaikan dan kesempurnaan isi makalah ini.
Terima kasih kami ucapkan untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah sehingga makalah ini dapat terselesaikan.


 Yogyakarta,19  Mei 2012


Penulis




PENDAHULUAN
Kesehatan merupakan kebutuhan dan hak setiap insan agar dapat kemampuan yang melekat dalam diri setiap insan. Hal ini hanya dapat dicapai bila masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, berperan serta untuk meningkatkan kemampuan hidup sehatnya. Kemandirian masyarakat diperlukan untuk mengatasi masalah kesehatannya dan menjalankan upaya peecahannya sendiri adalah kelangsungan pembangunan. GBHN mengamanatkan agar dapat dikembangkan suatu sistem kesehatan nasional yang semakin mendorong peningkatan peran serta masyarakat.
Kemampuan masyarakat perlu ditingkatkan terus menerus untuk menolong dirinya sendiri dalam mengatasi masalah kesehatan. Kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh bidan sendiri antara lain mempromosikan kesehatan dalam pelayanan agar peran serta ibu, remaja, wanita, keluarga dan kelompok masyarakat di dalam upaya kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana dapat meningkat.
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, dimana tercantum dalam pasal 28 H ayat 1 UUD 1945 yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat besar peranannya dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam rangka mengimbangi makin ketatnya persaingan bebas di era globalisasi. Keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut memerlukan pembangunan kesehatan yang lebih dinamis dan produktif dengan melibatkan semua sektor terkait termasuk swasta dan masyarakat.
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Oleh karena itu perlu diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, promosi kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (prevent), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Dalam rangka memajukan kesehatan masyarakat serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat maka diperlukan strategi promosi kesehatan baik kepada pemerintah, tokoh masyarakat, dan khususnya kepada masyarakat.

A.    UPAYA PROMOSI KESEHATAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN PRANIKAH
Promosi kesehatan pranikah merupakan suatu proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya yang ditujukan pada masyarakat reproduktif pranikah. Pelayanan kebidanan diawali dengan pemeliharaan kesehatan para calon ibu. Remaja wanita yang akan memasuki jenjang perkawinan perlu dijaga kondisi kesehatannya. Kepada para remaja di beri pengertian tentang hubungan seksual yang sehat, kesiapan mental dalam menghadapi kehamilan dan pengetahuan tentang proses kehamilan dan persalinan, pemeliharaan kesehatan dalam masa pra dan pasca kehamilan. Promosi kesehatan pada masa pra nikah disampaikan kepada kelompok remaja wanita atau pada wanita yang akan menikah.
Penyampaian nasehat tentang kesehatan pada masa pranikah ini disesuaikan dengan tingkat intelektual para calon ibu. Nasehat yang di berikan menggunakan bahasa yang mudah di mengerti karena informasi yang di berikan bersifat pribadi dan sensitif.
Remaja calon ibu yang mengalami masalah kesehatan akibat gangguan sistem reproduksinya segera di tangani. Gangguan sistem reproduksi tidak berdiri sendiri. Gangguan tersebut dapat berpengaruh terhadap kondisi psikologi dan lingkungan sosial remaja itu sendiri. Bila masalah kesehatan remaja tersebut sangat komplek, perlu dikonsultasikan keahli yang relevan atau dirujuk ke unit pelayanan kesehatan yang
fasilitas pelayanannya lebih lengkap. Faktor keluarga juga turut mempengaruhi kondisi kesehatah para remaja yang akan memasuki masa pernikahan. Bidan dapat menggunakan pengaruh keluarga untuk memperkuat mental remaja dalam memasuki masa perkawianan dan kehamilan.
Pemeriksaan kesehatan bagi remaja yang akan menikah sangat dianjurkan. Tujuan dari pemeriksaan tersebut adalah untuk mengetahui secara dini tentang kondisi kesehatan para remaja. Bila di temukan penyakit atau kelainan di dalam diri remaja, maka tindakan pengobatan dapat segera dilakukan. Bila penyakit atau kelainan tersebut tidak diatasi maka upayakan pada remaja tersebut untuk berupaya menjaga agar masalahnya tidak bertambah berat atau menular kepada pasangannya. Misalnya remaja yang menderita penyakit jantung, bila nantinya hamil secara teratur harus memeriksakan kesehatannya kepada dokter. Remaja yang menderita AIDS harus menjaga pasanganya agar tidak terkena virus HIV. Caranya adalah di anjurkan menggunakan kondom saat besrsenggama. Upaya pemeliharaan kesehatan bagi para calon ibu ini dapat dilakukan melalui kelompok atau kumpulan para remaja seperti karang taruna, pramuka, organisaai wanita remaja dan sebagainya. Para remaja yang terhimpun di dalam organisasi masyarakat perlu diorganisasikan agar pelayanan kesehatan dan kesiapan dalam menghadapi untuk menjadi istri dapat di lakukan dengan baik.
Pembinaan kesehatan remaja terutama wanitanya, tidak hanya ditujukan semata kepada masalah gangguan kesehatan (penyakit sistem reproduksi). Fakta perkembangan psikologis dan sosial perlu diperhatikan dalam membina kesehatan remaja.
Remaja yang tumbuh kembang secara biologis diikuti oleh perkembangan psikologis dan sosialnya. Alam dan pikiran remaja perlu diketahui. Remaja yang berjiwa muda memiliki sifat menantang, sesuatu yang dianggap kaku dan kolot serta ingin akan kebebasan dapat menimbulkan konflik di dalam diri mereka. Pendekatan keremajaan di dalam membina kesehatan diperlukan. Penyampaian pesan kesehatan dilakukan melalui bahasa remaja.
Bimbingan terhadap remaja antara lain mencakup :
1.      Perkawinan yang sehat
Bagaimana mempersiapkan diri ditinjau dari sudut kesehatan , menghadapi perkawinan, disampaikan kepada remaja. Pekawinan bukan hanya sekedar hubungan antara suami dan istri. Perkawinan memberikan buah untuk menghasilkan keturunan. Bayi yang dilahirkan adalah bayi yang sehat dan direncanakan.
2.      Keluarga yang sehat
Kepada remaja disampaikan tentang keluarga sehat dan cara mewujudkan serta membinanya. Keluarga yang diidamkan adalah keluarga yang memiliki norma keluaga kecil, bahagia dan sejahtera. Jumlah keluaga yang ideal adalah suami, istri dan 2 anak. Keluarga bahagia adalah keluarga yang aman, tentram disertai rasa ketakwaan kepada Tuhan YME. Keluarga sejahtera adalah keluarga yang sosial ekonominya mendukung kehidupan anggota keluarganya.dan mampu menabung untuk persiapan masa depan. Selain itu keluarga sejahtera juga dapat membantu dan mendorong peningkatan taraf hidup keluarga lain.
3.      Sistem reproduksi dan masalahnya
Tidak semua remaja memahami sistem reproduksi manusia. Membicarakan sistem reproduksi dianggap tabu dibeberapa kalangan remaja.
Perubahan yang terjadi pada sistem reproduksi pada masa kehamilan, persalinan, pasca persalinan dijelaskan.Penjelasan juga diberikan mengenai perawatan bayi. Gangguan sistem reproduksi yang dijelaskan seperti gangguan menstruasi, kelainan sistem reproduksi dan penyakit. Penyakit sistem reproduksi yang dimaksud seperti penyakit-penyakiit hubungan seksual, HIV /AIDS dan tumor.
4.      Penyakit yang berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan atau sebaliknya.
Remaja yang siap sebagai ibu harus dapat mengetahui penyakit- penyakit yang memberatkan kehamilan atau persalinan atau juga penyakit yang akan membahayakan dalam masa kehamilan atau persalianan. Penyakit-penyakit tersebut perlu dijelaskan. Penyakit yang perlu dan penting dijelaskan sewaktu mengadakan bimbingan antara lain penyakit jantung, penyakit ginjal, hipertensi, DM, anemia, tumor.
5.      Sikap dan perilaku pada masa kehamilan dan persalinan
Perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi pada masa kehamilan dan persalinan. Akibat perubahan sikap dan perilaku akan mengganggu kesehatan, misalnya pada masa hamil muda terjadi gangguan psikologi misalnya benci terhadap seseorang (suami) atau benda tertentu. Emosi yang berlebihan dimungkinkan akibat perubahan perilaku.
Pada masa persalinan atau pasca persalinan gangguan jiwa mungkin terjadi.
Disamping hal tersebut diatas masih ada lagi permasalahn remaja dan dikaitkan dengan kesehatan keluarga. Bidan harus dapat memberikan bimbingan sewaktu remaja berkonsultasi atau memberikan penyuluhan. Bila masalah remaja menyangkut bidang
lain maka dapat dirujuk pada yang lebih ahli. Misalnya bila remaja merasa ketakutan yang amat sangat dalam menghadapi kehamilan dapat dirujuk kedokter spesialis jiwa atau ke psikolog. Bimbingan remaja dilakukan melalui organisasi remaja seperti karang taruna , pramuka, organisasi pelajar, mahasiswa dan pemuda.
Dalam menghadapi proses perkawinan banyak hal ynag harus dipersiapkan oleh pasangan calon pengantin. Baik fisik, mental maupun biaya. Bidan mempunyai peran sebagai penyedia kesehatan antara lain dengan memberikan promosi kesehatan sebagai berikut :
1.      Hakikat atau manfaaat perkawinan
Hubungan suami istri yang elibatkan aspek kejiwaan oleh karena itu sebuah pernikahan haruslah sehat agar tercipta keharmonisan dalam rumah tangga.
Manfaat perkawinan untuk kesehatan :
a.       Menikah dapat mengurangi stress
Orang yang sudah menikah memiliki kadar kortisol (hormon stress) yang lebih rendah di bandingkan dengan orang yang belum menikah. Penelitian di laksanakan oleh univercity of california dengan cara mengambil sempel air liur orang yang sudah dan belum menikah
b.      Menikah dapat mengurangi kemungkinan mengalami stroke
Studi penelitian ini dilakukan oleh Tel aviv univercity yang menunjukkan pernikahan yang bahagia bisa membentu mencegah stroke fatal pada pria.
c.       Menikah menjauhkan seseorang dari depresi
Persoalan terkadang membutuhkan tempat curhat, orang yang sudah mrnikah akan lebih mudah menemukan teman curhatnya sehingga persoalan tidak lagi menjadi sebuah tekanan. Berbeda dengan orang yang belum menikah, setiap masalah akan ia pendam sendiri karena tidak menemukan teman curhat. Jika setiap permasalahan selalu terpendam maka akan mengakibatkan rasa stress dan semakin meningkat menjadi depresi.
2.      Penyuluhan pranikah
a.       Hakikat perkawinan
b.      Persiapan kehamilan pertama
c.       Pemeliharaan kehamilan dan nifas
d.      Pemberian ASI
e.       Imunusasi
Imunisasi yang diberikan adalan imunisasi tetenus toksoid (TT), yang diberikan menjelang hari perkawinan.
f.       Keluarga berencana
Pasangan muda yang belum menikah informasi yang dikehendaki mungkin mengenai infeksi menular seksual, informasi mengenai penjarangan kehamilan, dan penundaan kehamilan. Petugas membentu klien membuat keputusan mengenai pilihannya , dan harus tanggap terhadap pilihan klien meskipun klien menolak memutuskan atau menangguhkan menggunakan kontrasepsi. Dalam melakukan konseling, petugas mengkaji apakah klien sudah mengenal jenis kontrasepsi termasuk keuntungan dan kerugian, serta bagaimana menggunakannya. Konseling mengenai kontrasepsi yang dipilih dimulai dengan mengenalkan berbagai jenis kontrasepsi dalam program KB. Petugas mendorong klien untuk berfikir, melihat persamaan yang ada. Dan membendingkan antar jenis kontrasepsi tersebut.dengan cara ini petugas membentu klien mengambil suatu keputusan. Jika tidak ada halangan dalam bidang kesehatan sebaiknya klien mempunyai pilihan kontrasepsi sesuai dengan pilihannya. Bila memilih pelayanan kontrasepsi yang sesuai dengan yang dipilihnya, klien akan menggunakan kontrasepsi tersebut lebih lama dan lebih efektif.
3.      Persiapan calon pengantin.
Dalam pernikahan dua manusia dua pribadi akan dipersatukan oleh satu ikatan yang di abadikan melalui pernikahan. Kedua pribadi ini masing-masing memiliki kepribadian, keinginan, dan tujuan hidup sendiri. Persiapan-persiapan yang di perlukan bagi calon penganten adalah sebagai berikut :
a.       Persiapan fisik
1)      Sehat
Pasangan calon pengantin diharapkan sehat sehingga mampu menghasilkan keturunan yang sehat pula. Jika diperlukan, pasangan calon pengantin dapat melakukan pemeriksaan kesehatan secara umum sehimgga jika ditemukan salah satu pasangan mempunyai penyakit pasangan yang lainnya mampu menerima keadaan pasangannya.
2)      Umur
Usia menikah yang paling baik adalah dalam masa reproduksi sehat yaitu umur 20 tahun sampai dengan 30 tahun. Hal ini dilakukan dalam upaya persiapan kehamilan sehingga kehamilan nantinya bukanlah kehamilan dengan risiko.
3)      Istirahat dan lain lain
b.      Persiapan mental
1)      Nilai-nilai agama
2)      Cinta kasih
3)      Sikap sosial dalam keluaraga
4)      Keluarga harmonis
5)      Menjaga ketahanan keluarga
Hubungan antara anggota keluarga harus dipupuk dan dipelihara dengan baik. Hubungan yang baik dan kesatuan sikap ayah dan ibu merupakan jalinan yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak. Hubungan serasi ayah dan ibu memberi rasa tenang dan keteladanan bagi anak, serta keluarga yang kelak dibentuknya. Anak yang menghadapi masalah, baik kecil maupun besar mengidamkan tempat bernaung pada orang tua yang menampung, yang diperolehnya melalui komunikasi yang baik. Komunikasi terbentuk bila hubungan timbal balik selalu terjalin antara ayah ibu dan anak.
c.       Persiapan ekonomi
Sejalan dengan tuntutan kebutuhan yang semakin hari semakin besar, maka diharapkan calon suami telah mempunyai pekerjaan tetap agar dapat menafkahi seluruh anggota keluarga.
d.      Persiapan perilaku : tidak merokok, tidak narkoba, dan sebagainya.
Dampak fisiologis dari merokok adalah berupa dampak rokok terhadap fungsi kerja organ tubuh akibat kandungan 4000 bahan kimia dimana 40 diantaranya merusak dan menghancurkan sistem organ tubuh. Rokok juga memberikan dampak negatif terhadap bukan perokok. Rokok yang di bakar, menghasilkan asap yang keluar duakali lebih banyak dibanding asap yang dihisap oleh perokok. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kadar bahan berbahaya dari asap yang keluar ternyata lebih tinngi dibanding asap yang dihisap perokok. Kadar CO sekitar 2-4 kali lebih tinggi, kadar nikotin 2-3 kali lebih tinggi dan kadar nitrosamine 50 kali lebih tinggi.
Perokok pasif akan menderita sakit karena terpapar bahan berbahaya dalam asap rokok. Perokok pasif mempunyai kemungkinan terkena kanker paru 30% lebih tinggi dibanding yang tidak terpapar asap rokok. Penelitian di Jepang menunjukkan bahwa istri dari seorang perokok mempunyai kemungkinan terkena kanker paru sebesar 20-50% lebih tinggi dari istri bukan perokok.
Batuk pilek pada anak perokok 20-80% lebih sering dibanding anak bukan perokok. Bronkitis pada anak perokok 2 kali lebih sering daripada anak bukan perokok.
4.      Informasi lain yang perlu diketahui adalah sebagai berikut
a.       Imunisasi TT
b.      Memahami jenis kontrasepsi.
c.       Penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS.
Setiap pasangan yang datang ke pelayanan kesehatan hendaknya juga mendapatkan informasi tentang PMS , bukan hanya jenisnya tetapi juga cara penuluarannya dan juga cara untuk menghindarinya. Di harapkan setiap pasangan yang ingin menikah melakukan tes HIV/AIDS terlebih dahulu sehingga dapat diketahui apakah pasangannya mengidap HIV/AIDS atau tidak. Tujuannya adalah mendeteksi dan mencari jalan pemecahannya.
d.      Penyakit genetik : diabetes melitus, buta warna.
e.       Mengetahui status gizi.
f.       Hak-hak reproduksi : menentukan jumlah anak bukan hanya menjadi hak laki-laki, namun juga hak perempuan. Hendaknya setiap pasangan membicarakan terlebih dahulu berapa jumlah anak yang akan diinginkan kelak.
g.      Mengetahui alat reproduksi.

 
B.     UPAYA PROMOSI KESEHATAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN KEHAMILAN
1.      Perencanaan dan pengaturan kehamilan
a.      Merencanakan suatu kehamilan yang sehat dan aman.
Anak adalah anugerah yang selalu didambakan setiap pasangan yang telah menikah, namun pada berbagai kondisi tidak semua pasangan yang telah menikah ingin lalngsung memiliki anak. Ada yang ingin menunda karena alasan umur (terlalu muda), ada juga yang belum siap memiliki anak baik lahir maupun bathinnya. Pada saat inilah peran bidan untuk membantu dan mengarahkan dalam menentukan waktu yang tepat untuk memiliki anak.
b.      Mengatur kehamilan dengan alat kontrasepsi.
Alat kontrasepsi terdiri atas berbagai macam, mulai dari yang sederhana hingga metode kontrasepsi mantap. Bidan dapat membantu pasangan untuk memilih kontrasepsi mana yang lebih cocok. Jika ingin menunda kehamilan, maka dapat diperkenankan berbagai jenis metode kontrasepsi hormonal, mulai dari pil suntik, alat kontrasepsi bawah kulit(AKBK), dan alat kontrasepsi dalam rahim(AKDR).
Hal lain, jika pasangan sudah tidak ingin punya anak lagi tapi belum mau untuk kontrasepsi mantap, maka pasangan dapat dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi AKDR.
2.      Persiapan kehamilan dan saat kehamilan
a.       Tanda-tanda kehamilan.
1)      Tanda mungkin hamil
2)      Tanda pasti hamil
b.      Tujuan pemeriksaan kehamilan
c.       Pelayanan pada saat antenatal care (ANC)
Adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam standar pelayanan kebidanan (SPK). Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi : anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan) pemeriksaan laboratorium khusus dan rutin, serta intervensi umum dan khusus (sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Dalam penerapannya terdiri atas :
1)      Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2)      Ukur tekanan darah
3)      Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas)
4)      Ukur tinggi fundus uteri
5)      Tentukan presentasi janin dan DJJ
6)      Skrining status imunisasi TT dan berikan imunisasi TT bila diperlukan
7)      Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
8)      Tes laboratorium (rutin dan khusus)
9)      Tata laksana kasus
10)  Temu wicara, termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi serta KB pascapersalinan.
Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup pemeriksaan golongan darah, hemoglobin, protein urin, dan gula darah puasa. Pemeriksaan khusus dilakukan di daerah prevalensi tinggi dan atau kelompok berisiko, pemeriksaan yang dilakukan adalah hepatitis B, HIV, sifilis, malaria, tuberkolosis, cacingan dan thalasemia.
d.      Kehamilan risiko tinggi
Hal-hal yang termasuk ke dalam kelompok kehamilan risiko tinggi adalah :
1)      Umur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
2)      Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun
3)      Pernah melahirkan dari 4 kali
4)      Mengalami kesulitan pada persalinan yang lalu
5)      Tinggi badan kurang dari 145 cm
6)      Lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm
7)      Mempunyai penyakit menahun.
e.       Kunjungan ulang
Menurut WHO seorang ibu hamil minimal memeriksakan dirinya 4 kali selama hamil yaitu 1 kali trimester 1 (saat ia merasa bahwa ia hamil), 1 kali pada trimester 2. Dan 2 kali pada trimester 3. Tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil adalah dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan, dan perawat.
f.       Tempat dan penolong persalinan
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Pada kenyataannya di lapangan masih ada penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang kompeten memberikan pelayanan pertolongan persalinan adalah dokter spesialis kebidanan, dokter, dan bidan.
g.      Senam hamil
h.      Perawatan payudara
i.        Kehamilan yang tidak diinginkan
3.      Peranan gizi
a.       Asupan gizi seimbang
b.      Masalah yang timbul akibat kekurangan gizi
4.      Peranan suami
a.       Dukungan suami semasa kehamilan
b.      Peran suami dalam mendukung pola makan bagi ibu
c.       Dukung psikologis
d.      Dukungan fisik yaitu suami siaga
e.       Dukungan ekonomi

C.    UPAYA PROMOSI KESEHATAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN IBU BERSALIN
1.      Mengkaji Kesejahteraan Wanita Selama Persalinan
Ketika wanita persalinannya spontan, biasanya wanita tersebut yang memulai perawatannya sendiri, baik dengan meminta penolong kelahiran datang atau dengan melakukan persiapan ke fasilitas kesehatan. Tanggung jawab penolong persalinan untuk mengkaji perawatan yang paling tepat pada awal persalinan telah dibicarakan dan pentingnya pemberian dukungan sepanjang persalinan. Di manapun kelahiran terjadi, terbinanya hubungan yang baik antara wanita dan pemberi perawatan sangat penting baik mereka pernah atau belum bertemu sebelumnya. Kualitas penerimaan yang di tawarkan kepada wanita yang mencari perawatan institusi akan sangat menentukan tingkat kepercayaan yang di berikan oleh wanita tersebut dan keluarganya kepada pemberi perawatan.
Selama persalinan dan melahirkan, kesejahteraan fisik dan emosional wanita harus di kaji secara teratur, meliputi pengukuran suhu, nadi, dan tekanan darah, memeriksa asupan cairan dan keluaran urine, mengkaji nyeri dan kebutuhan akan dukungan. Pemantauan ini harus di pertahankan sampai proses kelahiran berakhir. Pengkajian kesejahteraan wanita juga di lakukan dengan memperhatikan privasi selama persalinan, menghormati orang yang di pilih untuk menyertainya, dan menghindari kehadiran orang yang tidak perlu dalam ruang bersalin.
2.      Prosedur Rutin
Persiapan kelahiran saat masuk rumah sakit atau pusat kesehatan sering kali meliputi beberapa prosedur ” rutin “. Seperti mengukur suhu, nadi dan tekanan darah, enema. Prosedur rutin ini tidak boleh di hilangkan meskipun hal tersebut harus di perkenalkan dan di jelaskan kepada wanita dan pasangannya karena untuk mencegah atau mendeteksi secara dini komplikasi yang mungkin dapat terjadi.
3.      Nutrisi
Nutrisi adalah subjek yang sangat penting dan pada saat yang sama sangat bervariasi. Pendekatan yang tepat tampaknya tidak menghambat keinginan wanita untuk makan dan minum selama persalinan dan melahirkan. Namun ada beberapa ibu yang menghadapi persalinan dengan ketakutan yang luar biasa. Dengan dilakukan promosi kesehatan tentang nutrisi pada ibu bersalin inilah di harapkan akan mampu mengurangi rutinitas pemenuhan nutrisi dengan ketakutan makan makanan tertentu.
4.      Tempat Melahirkan
Praktik persalinan dirumah yang benar memerlukan beberapa persiapan yang esensial. Penolong persalinan harus memastikan bahwa tersedia air bersih dan ruangan untuk tempat melahirkan yang hangat. Mencuci tangan harus di lakukan dengan cermat. Pakaian atau handuk hangat harus di siapkan untuk membungkus bayi agar tetap hangat. Jadi paling tidak harus ada beberapa bentuk peralatan melahirkan yang bersih sesuai rekomendasi WHO, yang bertujuan menciptakan lapangan persalinan sebersih mungkin dan memberi perawatan tali pusat yang adekuat.
5.      Nyeri Persalinan
Hampir semua wanita mengalami nyeri selama persalinan, tetapi respon setiap wanita terhadap nyeri persalinan berbeda-beda. Ada beberapa metode non-invasif sekaligus non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat digunakan selama persalinan. Banyak wanita merasa nyeri berkurang dengan mandi, sentuhan dan pijatan. Ada pula wanita yang mengatasi nyeri dengan cara relaksasi yang di lakukan secara verba, menjauhkan wanita dari nyerinya secara hipnotis, musik dan umpan balik biologic. Semua budaya mempunyai cara masing-masing untuk membantu dan memimpin persalinan. Beberapa budaya tersebut menjelaskan kebiasaannya dengan mitos dalam keluarga, bidan mencoba memberi penjelasan yang lebih masuk akal tentang sistem yang di terapkan. Ciri umum dari metode-metode ini adalah pemberian perhatian yang intens kepada wanita selama persalinan dan melahirkan. Mungkin inilah alasan mengapa begitu banyak wanita hamil merasa metode ini nyaman dan banyak membantu. Pelatihan dalam melakukan konseling atau promosi kesehatan dan keterampilan komunikasi interpersonal sangat penting untuk semua yang merawat wanita usia reproduktif (Kwast, 1995).
6.      Kebersihan
Di manapun proses persalinan dan melahirkan ditangani, kebersihan adalah kebutuhan yang paling penting dan utama. Sterilisasi yang biasa di gunakan di kamar operasi tidak diperlukan tetapi kuku harus pendek dan bersih serta tangan harus di cuci dengan air dan sabun secara cermat. Beberapa tindakan harus diambil selama persalinan untuk mencegah kemungkinan infeksi pada wanita dan penolong persalinan. Tindakan ini meliputi penghindaran kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh lain, penggunaan sarung tangan selama pemeriksaan vagina dan pelahiran bayi, serta dalam penanganan plasenta. Penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi dengan mempertahankan teknik invasif misalnya episiotomi seminimal mungkin dan jika melakukan perawatan tambahan.


DAFTAR PUSTAKA



Novita, Nesi. Franciska,Y. (2011). Promosi Kesehatan dalam Pelayanan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar