Selasa, 09 April 2013

Etika Promosi Kesehatan: Hubungan dengan Klien, Kepedulian dengan Determinan Sosial dan Hubungan Terhadap Kesehatan



KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
            Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta karunia-NYA kepada kita semua karena dengan izin-Nya-lah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Topik Makalah kami adalah Etika Promosi Kesehatan: Hubungan dengan Klien, Kepedulian dengan Determinan Sosial dan Hubungan Terhadap Kesehatan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dimana masih terdapat kekurangan-kekurangan yang tentunya masih diharapkan perbaikannya, oleh karena itu kami mohon kritik dan saran dari dosen pembimbing serta teman-teman semua guna perbaikan dan kesempurnaan isi makalah ini.
Terima kasih kami ucapkan untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah sehingga makalah ini dapat terselesaikan.


 Yogyakarta, Februari  2012


Penulis






Daftar Isi

Kata Pengantar........................................................................................................ i
Daftar Isi................................................................................................................. ii
Daftar Pustaka......................................................................................................... iii
Bab I
1.      Latar Belakang.................................................................................................. 1
Bab II
1.      Hubungan dengan klien..................................................................................... 2
2.      Determinan sosial dan hubungan dengan kesehatan......................................... 4
Bab III
1.      Kesimpulan........................................................................................................ 10
2.      Saran.................................................................................................................. 10





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Etika adalah salah satu cabang filosofi yang memberikan perhatian terhadap yang benar (kebenaran) dan salah dengan melakukan pendekatan moral. Dalam kehidupan sehari-hari banyak nilai-nilai di masyarakat secara tersirat telah ada, serta berkembang sejak zaman dahulu dan bersifat mengikat orang-orang di dalamnya. Masyarakat yang melanggar etika dianggap tidak menghargai nilai yang ada di masyarakat dan biasanya akan mendapatkan sanksi dari masyarakat.
Etika berasal dari yunani dari kata ethos yang berarti kebiasaan-kebiasaan atau tingkah laku manusia. Dalam bahasa inggris disebut ethics yang mempunyai pengertian sebagai tingkah laku atau perilaku manusia yang baik, yakni tindakan tepat yang dilaksanakan manusia sesuai dengan moral pada umumnya.
Etik sebagai filsafat moral, mencari jawaban untuk menentukan serta mempertahankan secara rasional teori yang berlaku tentang apa yang benar dan apa yang salah, baik atau buruk yag secara umum dapat dipakai sebagai suatu perangkat prinsip moral yang menjadi pedoman bagi tindakan manusia. Sementara itu, moral adalah mengenai apa yang dinilai seharusnya oleh masyarakat. Secara umum etik dapat dibedakan menjadi berikut ini :
1.      Hal yang berkaitan dengan sopan santun di dalam pergaulan, baik di dalam tata tertib di masyarakat maupun tata cara di dalam organisasi profesi.
2.      Hal yang berkaitan dengan sikap, tindak-tanduk seseorang dalam menjalankan tugas profesinya yang biasa disebut kode etik pofesi.
Dalam etika tercakup empat prinsip utama yaitu kebebasan (freedom), tidak merugikan (non-maleficence), menguntungkan (beneficence) dan adil (justice). Etika menjadi kebutuhan dan perlakuan yang perlu ditampilkan oleh seorang petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan yang bertanggung jawab dan profesional. Pelayaan kesehatan di sini termasuk penggunaan alat teknologi modern yang menghendaki tanggung jawab sehingga dapat memuaskan klien yang menuntut haknya atas pelayanan prima.
B.     Tujuan
Agar mahasiswa memahami pentingnya etika dalam promosi kesehatan dan hubungannya dengan klien serta pengaruh determinan terhadap perilaku kesehatan itu sendiri.

C.     Manfaat

Bagi penulis : menambah wawasan dan pengetahuan tentang etika dalam promosi kesehatan dan hubungannya dengan klien serta pengaruh determinan terhadap kesehatan.

Bagi pembaca : Sebagai bahan kepustakaan bagi yang membutuhkan acuan untuk penyusunan makalah yang berkaitan dengan etika dalam promosi kesehatan dalam hubungannya dengan klien dan pengaruh deerminan terhadap perilaku kesehatan.














BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hubungan dengan Klien
Tenaga kesehatan masyarakat berhubungan erat dengan klien/masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan pentingnya peran tenaga kesehatan masyarakat dalam merubah perilaku masyarakat menuju hidup bersih dan sehat.
Program promosi perilaku hidup bersih dan sehat yang biasa dikenal dengan PHBS/ promosi higiene merupakan pendekatan terencana untuk mencegah  penyakit menular yang lain melalui pengapdosian perubahan perilaku oleh masyarakat luas. Program ini dimulai dengan apa yang diketahui , diinginkan dan dilakukan masyarakat setempat dan mengembangkan program berdasarkan informasi tersebut (Curtis V dkk,1997;UNICEF,WHO. Bersih, sehat dan sejahtera).
Program promosi PHBS harus dilakukan secara profesional oleh individu dan kelompok yang mempunyai kemampuan dan komitmen terhadap kesehatan masyarakat serta memahami tentang lingkunagn dan mampu melaksanakan komunikasi, edukasi dan menyampaikan informasi secara tepat dan benar yang sekarang disebut dengan promosi kesehatan. Tenaga kesehatan masyarakat diharapkan mampu mengambil bagian dalam promosi PHBS sehingga dapat melakukan perubahan perilaku masyarakat untuk hidup berdasarkan PHBS. Tenaga kesehatan masyarakat telah mempunyai bekal yang cukup untuk dikembangkan dan pada waktunya disumbangkan kepada masyarakat dimana mereka bekerja.
Hubungan dengan klien merupakan pendekatan yang bertujuan untuk bekerja sama dengan klien agar dapat membantu mereka mengidentifikasi apa yang ingin mereka ketahui dan lakukan, memilih dan membuat keputusan sesuai dengan kepentingan serta keinginanya. Klien dianggap sejajar yakni mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan berkontribusi serta mempunyai hak mutlak untuk mengontrol tujuan kesehatan mereka sendiri. Sebagai contoh: isu anti-merokok, dengan adanya isu tersebut masyarakat diharapkan dapat mengidentifikasi apa yang ingin mereka ketahui dan kerjakan berkaitan dengan isu tersebut dan sebagainya.
            Peran promotor kesehatan sebagai fasilitator untuk membantu masyarakat mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan mereka, agar memperoleh pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan masalah kesehatan yang mereka temui.
Ewles dan simnett (1994 : 71-75 dalam Heri 2009) menyatakan beberapa pertimbangan dalam hubungan dengan klien antara lain :
1.      Lebih baik berkonsultasi dengan klien ketika merencanakan dan mengevaluasi kegiatan promosi kesehatan
2.      Promosi harga diri dan otonomi di antara kelompok-kelompok klien merupakan prinsip mendasar dari semua praktik promosi kesehatan.
3.      Semua praktik promosi kesehatan harus mendorong sikap saling menghargai tanpa memandang umur, kemampuan, kecacatan, suku agama, gender, dan melawan diskriminasi jika ada. Promotor kesehatan akan mendukung prinsip pemberian kesempatan yang sama dan mengambil langkah positif untuk mengurangi ketidakmerataan dalam kesehatan atau pelayanan kesehatan.















B.     Kepedulian dengan Determinan Sosial dan Hubungan Terhadap Kesehatan
Perilaku adalah resultan antara stimulus (eksternal) dengan respon (internal) dalam subjek atau orang yang berperilaku tersebut. Perilaku seseorang atau subjek dipengaruhi oleh faktor-faktor, baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Faktor yang membentuk perilaku ini disebut determinan. Dalam bidang perilaku kesehatan ada 3 teori yang sering menjadi acuan dalam penelitian – penelitian kesehatan yaitu:
1.         Teori Lawrence Green
Perilaku adalah resultan antar stimulus (faktor eksternal) dengan respons (faktor internal) dalam subjek atau orang yang berperilaku tersebut. Perilaku seseorang atau subjek dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor – faktor baik dari dalam maupun dari luar subjek. Faktor yang menentukan atau membentuk perilaku ini disebut determinan. Dalam bidang perilaku kesehatan ada 3 teori yang sering menjadi acuan dalam penelitian – penelitian kesehatan yaitu :
a.       Faktor-faktor predisposisi.
Yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi masyarakat tersebut terhadap apa yang dilakukan, misalnya perilaku ibu untuk memeriksakan kehamilannya akan dipermudah apabila ibu tersebut tahu apa manfaat dari periksa hamil, tahu siapa dan dimana periksa hamil tersebut dilakukan
b.      Faktor-faktor pemungkin.
Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana, atau prasarana yang mendukung atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Misalnya, untuk terjadinya perilaku ibu periksa hamil, maka diperlukan bidan atau dokter, fasilitas periksa hamil seperti puskesmas, rumah sakit, klinik, posyandu, dan sebagainya. Agar seseorang atau masyarakat buang air besar di jamban, maka harus tersedia jamban, atau mempunyai uang untuk membangun jamban sendiri. Pengetahuan dan sikap saja belum menjamin terjadinya perilaku, maka masih diperlukan sarana atau fasilitas untuk memungkinkan atau mendukung perilaku tersebut. Dari segi kesehatan masyarakat, agar masyarakat mempunyai perilaku sehat harus terakses (terjangkau) sarana dan prasarana atau fasilitas pelayanan kesehatan.

c.       Faktor-faktor penguat.
Yaitu faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Pengetahuan, sikap dan fasilitas yang tersedia kadang-kadang belum menjamin terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Sering terjadi, bahwa masyarakat sudah tahu manfaat keluarga  berencana (KB) dan juga telah tersedia di lingkungannya fasilitas pelayanan KB, tetapi mereka belum ikut KB karena alasan yang sederhana, yakni bahwa Toma (tokoh masyarakat) yang dihormatinya tidak atau belum mengikuti KB. Dari contoh diatas telah terlihat jelas bahwa Toma (tokoh masyarakat) merupakan faktor penguat (Reinforcing factors) bagi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.
Model ini dapat digambar sebagai berikut :
B = f (PF,EF,RF)
Dimana :
B = behaviour
PF = predisposing factors
EF = enebling factors
RF = reinforcing factors
f = fungsi
Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu, ketersediaan fasilitas, sikap, dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.
Seseorang yang tidak mau mengimunisasikan anaknya di posyandu dapat disebabkan karena orang tersebut tidak atau belum mengetahui manfaat imunisasi bagi anaknya. (predisposing factor)
Atau barangkali juga karena rumahnya jauh dari posyandu atau puskesmas tempat mengimunisasikan anaknya ( enebling factor).
Sebab lain, mungkin karena para petugas kesehatan atau tokoh masyarakat lain disekitarnya tidak pernah mengimunisasikan anaknya ( reinforcing factors).
2.      Teori Snehandu B.Karr
Mengidentifikasi adanya 5 determinan perilaku, yaitu :
a.       Adanya niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan objek atau stimulus di luar dirinya (behavior intention).
b.      Adanya dukungan dari masyarakat sekitar (social support)
c.       Terjangkaunya informasi, yaitu tesedianya informasi-informasi terkait dengan tindakan yang akan diambil oleh seseorang (accessebility of information).
d.      Adanya otonomi atau kebebasan pribadi untuk mengambil keputusan (personal autonomy).
e.       Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan (action situation).
B=f(BI, SS, AL, PA, AS)
Keterangan :
B= Behaviour
f = Fungsi
BI= Behaviour Intention
SS= Social Support
AI= Accessebility of Information
PA= Personal Autonomy
AS= Action Situation

Disimpulkan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat ditentukan oleh niat orang terhadap objek kesehatan, ada atau tidaknya dukungan dari masyarakat sekitarnya, ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan, kebebasan dari individu untuk mengambil keputusan/bertindak, dan situasi yang memungkinkan ia berperilaku/bertindak atau tidak berperilaku/bertindak. Seseorang ibu yang tidak mau ikut KB, mungkin karena ia tidak ada minat dan niat terhadap KB (behaviour intention), atau barangkali juga karena tidak ada dukungan dari masyarakat sekitarnya (social-support). Mungkin juga karena kurang atau tidak memperoleh informasi yang kuat tentang KB (accessebility of information), atau mungkin ia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan, misalnya harus tunduk kepada suami, mertuanya atau orang lain yang ia segani (personal autonomy). Faktor lain yang mungkin menyebabkan ibu ini tidak ikut KB adalah karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, misalnya alasan kesehatan (action situation).

3.    Teori WHO
Ada 4 determinan menurut WHO :
a.         Pemikiran dan perasaan yaitu merupakan modal awal untuk bertindak dan berperilaku.
b.        Adanya acuan atau referensi dari seseorang atua pribadi yang dipercayai.
c.         Sumberdaya yang tersedia merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.
d.        Sosio budaya merupakan faktor eksternal untuk terbentuknya perilaku seseorang.
Adapun Ewles dan simnett (1994 : 71-75 dalam Heri 2009) menyatakan beberapa pertimbangan yang memengaruhi kepedulian dengan determinan sosial antara lain :
a.       Semua program promosi kesehatan harus peka terhadap kerangka sosial, ekonomi, ras dan budaya dari kelompok klien yang menjadi sasaran. Program-program harus selalu dipertimbangkan dalam konteks latar belakang sosial, ekonomi, dan lingkungan yang lebih luas.
b.      Semua kegiatan promosi kesehatan harus memahami bahwa determinan sosial, ekonomi, dan lingkungan terhadap kesehatan sering berada di luar kontrol individu, serta harus berupaya memperhitungkan determinan-determinan ini.
c.       Promosi kesehatan akan efektif jika kegiatan promosi kesehatan memasukkan metode-metode yang mendorong keterlibatan dan partisipasi masyarakat umum. Upaya lain adalah memberdayakan masyarakat untuk mengambil lebih banyak kontrol dan tanggung jawab atas kesehatannya sehingga dapat memengaruhi sistem dan organisasi yang berdampak bagi kesehatan.

Determinan Sosial Berkaitan dengan Kesehatan
Ada sepuluh determinan sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan antara lain :
1.      Kesenjangan sosial
Masyarakat dengan kelas  sosial ekonomi lemah, biasanya sangat rentan dan berisiko terhadap penyakit, serta memiliki harapan hidup yang rendah.
2.      Status Emosional
Setiap pemikiran positif akan sangat berpengaruh, pikiran yang sehat dan bahagia semakin meningkatkan kesehatan tubuh kita. Tidak sulit memahami pengaruh dari pikiran terhadap kesehatan kita.Yang diperlukan hanyalah usaha mengembangkan sikap yang benar agar tercapai kesejahteraan. Sebaliknya jika pemikiran itu negatif dapat memicu terjadinya stres. Stres merupakan keadaan psikologis/jiwa yang labil. Kegagalan menanggulangi stres baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di lingkungan kerja, akan mempengaruhi kesehatan seseorang. Stres di tempat kerja meningkatkan risko terhadap penyakit dan kematian. Syarat-syarat kesehatan di tempat kerja akan membantu meningkatkan derajat kesehatan.
3.      Pengucilan sosial
Kehidupan di pengasingan atau perasaan terkucil akan menghasilkan perasaan tidak nyaman, tidah berharga, kehilangan harga diri, akan mempengaruhi kesehatan fisik, dan mental suatu pribadi.
4.      Kehidupan dini
Kesehatan masa dewasa ditentukan oleh kondisi kesehatan di awal kehidupan. Pertumbuhan fisik yang lambat, serta dukungan emosi yang kurang baik pada awal kehidupan akan memberikan dampak pada kesehatan fisik, mental dan kemampuan intelektual masa dewasa.
5.      Sosial ekonomi
Faktor-faktor sosial dan ekonomi seperti lingkungan sosial, tingkat pendapatan, pekerjaan, dan ketahanan pangan dalam keluarga merupakan faktor yang berpengaruh besar pada penentuan derajat kesehatan seseorang. Dalam masalah gizi buruk misalnya, masyarakat dengan tingkat ekonomi dan berpendapatan rendah biasanya lebih rentan menderita gizi buruk. Hal tersebut bisa terjadi karena orang dengan tingkat ekonomi rendah sulit untuk mendapatkan makanan dengan nilai gizi yang bisa dibilang layak. Pekerjaan merupakan penopang biaya kehidupan. Jaminan pekerjaan yang mantap akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi diri dan keluarganya.
6.      Dukungan sosial
Hubungan sosial termasuk diantaranya adalah persahabatan serta kekerabatan yang baik dalam keluarga dan juga di tempat kerja.
7.      Penyalahgunaan NAPZA
Pemakaian NAPZA merupakan faktor memperburuk kondisi kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan. Napza atau pemakaian narkoba, alkohol dan merokok mengakibatkan dampak buruk terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
8.      Makanan
Ketersediaan pangan, pendayagunaan penghasilan keluarga untuk pangan, serta cara makan berpengaruh terhadap kesehatan kita.
Makanan merupakan faktor penting dalam kesehatan kita. Bayi lahir dari seorang ibu yang telah siap dengan persediaan susu yang merupakan makanan lengkap untuk seorang bayi. Mereka yang memelihara tubuhnya dengan makanan yang cocok, menikmati tubuh yang benar-benar sehat.Kecocokan makanan ini menurut waktu, jumlah, dan harga yang tepat. Hanya saat kita makan secara berlebihan makanan yang tidak cocok dengan tubuh kita, maka tubuh akan bereaksi sebaliknya. Sakit adalah salah satu reaksi tubuh, dan bila kemudian dicegah atau dirawat dengan benar, tubuh kembali sehat.Penyakit merupakan peringatan untuk mengubah kebiasaan kita.Perlu diingat selalu bahwa tubuh kita hanya memerlukan makanan yang tepat dalam jumlah yang sesuai.
9.      Transportasi
Transportasi yang sehat, mengurangi waktu berkendara, dan meningkatkan aktifitas fisik yang memadai akan baik bagi kebugaran dan kesehatan. Selain itu, mengurangi waktu berkendara dan jumlah kendaraan akan mengurangi polusi pada manusia.
10.  Pendidikan dan pengetahuan
Tingkat pengetahuan akan membentuk cara berpikir dan kemampuan seseorang untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjaga kesehatannya. Pendidikan juga secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam menjaga kesehatannya. Biasanya, orang yang berpendidikan (dalam hal ini orang yang menempuh pendidikan formal) mempunyai resiko lebih kecil terkena penyakit atau masalah kesehatan lainnya dibandingkan dengan masyarakat yang awam dengan kesehatan.
11.  Faktor agama dan keyakinan
Agama dan kepercayaan yang dianut oleh seorang individu secara tidak langsung mempengaruhi perilaku kita dalam berperilaku sehat. Misalnya, pada agama Islam.Islam mengajarkan bahwa “anna ghafatul minal iman” atau “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Sebagai umat muslim, tentu kita akan melaksanakan perintah Allah SWT. untuk berperilaku bersih dan sehat.


















BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan
Penerapan promosi kesehatan harus memperhatikan kode etik dengan mempertimbangkan aspek hubungan dengan klien serta kepedulian terhadap determinan sosial yang ada di lingkungan sasaran promosi kesehatan tersebut. Hal ini bertujuan agar promosi kesehatan berdasar pada tanggung jawab profesional sehingga upaya promosi kesehatan yang dilakukan dapat tercipta sesuai dengan kode etik suatu profesi.

b.      Saran 
    Tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat menerapkan etika dalam promosi kesehatan. Tenaga kesehatan erat kaitannya dengan klien, sehingga dalam memberikan promosi kesehatan bidan hendaknya memperhatikan etika, yang juga harus disesuaikan dengan budaya yang ada di masyarakat.













DAFTAR PUSTAKA
Novita,N. Franciska, Y. (2011). Promosi Kesehatan dalam Pelayanan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.
Fitriani, Sinta. 2011. Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar